Tantang Maut: Terobos Lampu Kuning atau Merah - Jalan raya tidak hanya digunakan oleh satu atau dua orang, tapi belasan bahkan puluhan orang. Untuk itu, seiring berkembangnya populasi kendaraan, teknologi yang diperlukan untuk mengatur sistematika arus kendaraan di jalan raya pun harus dikembangkan. Salah satu teknologi pendukung keamanan berlalu lintas adalah Lampu Lalu Lintas atau Traffic Light, yaitu lampu yang mengendalikan arus lalu lintas yang terpasang di persimpangan jalan, tempat penyeberangan pejalan kaki (zebra cross), dan tempat arus lalu lintas lainnya. Lampu ini akan menyala secara bergantian untuk mengatur laju lalu lintas dari arah yang berlawanan. Warna-warna didalamnya pun telah diakui secara universal, dalam artian warna merah dalam Traffic Light telah diakui oleh penduduk dunia berarti berhenti, demikian pula warna kuning atau hijau yang sepertinya tidak perlu saya jelaskan karena sepertinya anak SD pun diluar kepala dengan masing-masing maknanya.
Namun entah mengapa, saya sering kali melihat pemakai jalan yang memaknai sendiri arti warna dalam lampu lalu lintas, yang juga berfungsi untuk memfasilitasi persimpangan antara jalan utama untuk kendaraan dan pejalan kaki dengan jalan sekunder sehingga kelancaran arus lalu lintas dapat terjamin. Tidak salah memang jika merah itu berarti berani, sehingga orang-orang yang duduk diatas mesin yang dapat melaju kencang yang nekat menerobos lampu merah ini disebut dengan pemberani.
Bila jalan raya itu milik pribadi boleh-boleh aja menekan gas kendaraan sekencang-kencangnya saat lampu lalu lintas menyala dalam keadaan merah, atau menancap gas sekencang-kencangnya bila lampu lalu lintas sudah berubah kuning. Namun masalahnya diluar sana ada puluhan atau ratusan pengendara lain yang juga membayar pajak untuk membangun infrastruktur di dalam negeri dan memiliki hak yang sama untuk menggunakan jalan raya.
Saya cukup kesal menemui orang-orang yang menganggap diri mereka adalah raja jalanan seperti ini. Kebetulan orang-orang seprti ini yang sering saya lihat berasal dari kalangan anak-anak remaja labil yang kendaraannya telah dimodifikasi sedemikian rupa sehingga tampak keren bagi mereka sendiri, namun belum tentu keren bagi orang lain. Mas.. mas.. kalo mau kebut-kebutan atau keren-kerenan kenapa gak disirkuit aja. Benar kan..? Selain itu ada juga seorang wanita cantik berpakaian seksi yang selalu siap memayungi. Atau kalau memang sedang dalam keadaan terburu-buru, bisa kan berangkat dari rumah lebih awal.
Persepsi yang keliru ini sering kali membawa petaka di jalan raya. Mungkin para pengendara nyeleneh ini berpikir saat lampu lalu lintas berhenti di warna kuning, masih ada sekian detik untuk jalan terus. Namun bagaimana bila pengendara dari arah berlawanan juga berpikir demikian. Kedua pemakai jalan ini akan menekan gas sekencang-kencangnya, sehingga benturan bisa saja terjadi...
Mengenaskan, menyedihkan sekaligus memprihatinkan... kepintaran orang-orang ini melampaui batas pikir orang normal. Padahal kalo dipikir-pikir, apa salahnya sih berhenti untuk beberapa menit, dari pada harus berakhir di rumah sakit, atau lebih parah lagi di kuburan...???

setuju banget gan kesadaran lalu lintas memang harus dibangun rakyat Indonesia
ReplyDelete