Thursday, February 10

"Homo Homini Lupus", Serigala Manusia

Seekor serigala yang sedang berlari mengikuti aroma seekor domba jantan tiba-tiba melambatkan langkahnya dan bergerak penuh kewaspadaan. Tak jauh dari tempatnya berdiri, nampak 5 (lima) orang sedang duduk mengelilingi api unggun. Beberapa meter dari tempat mereka berkerumun, ada ratusan domba dan sapi sedang tertidur. Hewan-hewan ternak itu ada milik Ayah dari kelima orang itu. Mereka berlima merupakan anak-anak yang diminta oleh Ayahnya untuk mengembalakan hewan ternaknya.
(Sebenarnya mereka adalah enam bersaudara, tapi ada satu orang saudara mereka yang tidak mereka sukai. Katakanlah namanya Adjie. Adjie adalah adik mereka paling kecil akan tetapi dia sangat disukai oleh Ayahnya karena dia jujur, rajin, disiplin dan tak memiliki rasa iri hati sedikit pun. Dia selalu berusaha membahagiakan keluarganya terutama Ayahnya. Berbeda dengan kelima kakaknya yang hanya memikirkan diri mereka sendiri. Kelima kakaknya sangat ingin melenyapkan Adjie, dan mereka pun merencanakan sesuatu untuk melenyapkan Adjie.)

Serigala tersebut menempelkan tubuhnya di tanah, berjalan mengendap-endap dan bersembunyi. Ia merasa orang-orang ini tengah merencakan sesuatu. “Kita harus melenyapkan Adjie,” kata seorang dari mereka. “Kalian tahu, Adjie lebih dicintai oleh Ayah daripada kita semua.” Yang lain menengahi, “Begini saja. Kita tak perlu membunuhnya. Masukkan saja dia ke dasar sumur supaya dipungut oleh musafir.” “Tapi apa yang harus kita katakana pada Ayah?” sambung yang lain. “Bilang saja ia dimakan serigala!” Adjie yang ketika itu sedang mengawasi hewan ternaknya agak tak ada yang dimakan oleh serigala.

Mendengar namanya disebut-sebut, serigala sadar dirinya berada dalam bahaya. Segera ia berlari, namun terlambat, kaki belakangnya terperosok ke dalam jerat yang sangat kuat. Serigala menangis, meraung. Udara malam pecah oleh suara lolongan dan jeritan si serigala.

Segalanya terjadi begitu cepat. Kelima orang itu memukulinya dan mengikat serigala, lalu memasukkannya ke kerangkeng. Setelah itu, mereka diam-diam mendekati Adjie, membungkam mulutnya, melucuti pakaiannya dan akhirnya melempar tubuh Adjie ke dalam sumur yang tak jauh berada dari tempat mereka berkumpul. Setelah mereka berhasil membunuh adik mereka sendiri, mereka segera pulang bermaksud untuk menyampaikan kepada Ayah mereka bahwa Adjie telah meninggal dibunuh oleh seekor serigala. itu kehadapan Ayah. Tak lupa mereka membawa baju milik Adjie yang telah mereka ambil sebagai bukti untuk Ayah mereka.

Keesokan malamnya, mereka kembali ke tempat dimana mereka mengurung serigala itu. Mereka membunuh seekor anak domba dan melumuri darah anak domba tersebut pada mulut dan cakar si serigala. Setelah itu, mereka membawa serigala tersebut pulang kehadapan Ayah mereka, sambil berkata, “Ayah, serigala ini sering memakan ternak kita. Ia juga yang telah menerkam, membunuh Adjie!” Dengan hati yang pilu, si Ayah berkata, “Hai serigala, ini pakaian Adjie. Anak-anakku yang lain membawanya padaku dan berkata kamulah yang menerkamnya.” Serigala memandangi Ayah yang bijak ini memohon belas kasihan. Akhirnya orang tua yang bijaksana ini berkata, “Aku mengerti apa yang kau rasakan. Bagaimana mungkin kau menerkam Adjie sementara pakaiannya masih utuh tanpa darah sedikit pun. Aku tahu ini semua adalah muslihat anak-anakku sendiri.” Serigala membatin, “Aku adalah serigala asing yang datang dari negeri nan jauh untuk mencari saudara-saudaraku. Sedangkan anak-anakmu malah menghilangkan saudaranya sendiri. Jadi siapakah sebenarnya serigala itu? Aku ataukah anak-anakmu wahai tuanku yang bijaksana?”

Apa yang dikatakan oleh serigala itu benar. Seperti dikemukakan oleh seorang penulis Titus Maccius Plautus, “Homo Homini Lupus”, Manusia adalah serigala bagi manusia lain. Serigala sering kali dilukiskan sebagai hewan licik, tamak dan rakus. Padahal sebenarnya tidak demikian. Serigala hanya makan secukup perutnya dan tak pernah menimbun harta seperti manusia. Serigala memakan domba atau kambing, tapi tak pernah sekalipun memakan serigala lain. Mereka hidup berkasih sayang dalam komunitas yang penuh keharmonisan.
Kelemahan serigala adalah ketidakmampuan mereka menyembunyikan taring dan cakarnya dengan senyuman seperti yang sering dilakukan manusia. Dengan berbagai teknik memanajemen kesan (impression management), manusia menyembunyikan watak serigala yang mereka miliki dibalik jas, dasi ataupun pakaian adat mereka yang mereka kenakan ketika mereka bersujud di rumah Tuhan. Fenomena ini mungkin dapat menjelaskan mengapa Indonesia yang berdasarkan Pancasila ber-Bhinneka Tunggal Ika dan mengakui HAM atas kepemelukan agama merupakan negeri paling korup sedunia.

Saya kira kini Indonesia masih menempatkan diri sebagai salah satu negeri miskin di dunia. Bayangkan setiap orang Indonesia (termasuk seorang bayi yang belum mengerti apa-apa) sudah harus menanggung beban utang sekitar Rp. 6 juta. Tapi kita masih menerima komitmen-komitmen dengan pihak atau lembaga asing untuk dana pinjaman. Padahal pengalaman membuktikan sekitar 30% utang kita mengalir ke kantong para serigala berjas. Tak heran, banyak pengamat perekonomian merasa tak yakin bahwa utang-utang tersebut dimanfaatkan dengan maksimal.

Persoalan korupsi sebenarnya berkaitan dengan 2 (dua) hal.
Pertama, dengan sistem hukum di Indonesia. Cina yang bersama Vietnam dan Indonesia dikenal sebagai surganya koruptor, menerapkan hukuman mati. Ini berbeda dengan kita yang menyelesaikan korupsi dengan lobby politik. Pemerintahan kita juga menciptakan banyak banyak dana non bujeter yang tidak jelas akuntabilitasnya seperti dana Bulog.

Kedua, dan ini jauh lebih mendasar adalah persoalan manusia. Banyak orang yang berwatak serigala, yang memiliki mentalitas kelangkaan (scarcity mentality). Mereka selalu merasa kekurangan. Merekalah orang-orang kaya yang takut miskin. Ini yang membuat rumus korupsi di Indonesia berbeda dengan Negara lain. Di Malaysia, rumus korupsi adalah, “Bagikan dulu untuk rakyat, nanti sisanya baru kita korupsi”. Sementara rumus kita adalah, “Bagi-bagi dulu diantara pejabat, sisanya baru buat rakyat”. Tak heran banyak pejabat yang kekayaannya melangit, sementara kemiskinan rakyat amat memprihatinkan.

Membenahi sistem hukum relative lebih mudah. Yang diperlukan hanya kemauan politik. Membenahi Sumber Daya Manusia (SDM) jauh lebih sulit, tapi akan menghasilkan perubahan dan dampak positif yang lebih mendasar.
Akar korupsi terletak pada Paradigma orang tentang kekuasaan. Selama kekuasaan masih dilihat sebagai rezeki dan tujuan hidup dan bukan dipandang sebagai amanat, selama itu pula korupsi tak mungkin dapat diberantas.

0 comments:

Post a Comment