Monday, January 31

Kesempatan Itu Selalu Ada

Pergunakanlah lima perkara sebelum datangnya lima perkara:
Masa mudamu sebelum datang masa tuamu
Masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu
Masa lapangmu sebelum datang masa sibukmu
Masa kayamu sebelum datang masa miskinmu
Dan masa hidupmu sebelum datang masa matimu


Syair diatas cukup menarik, dan ada benarnya juga. Disini kita berbicara mengenai kesempatan. Siapa bilang kesempatan itu tidak datang dua kali? Kesempatan itu bahkan datang berkali-kali, meskipun seringkali kita tidak menyadari dan tidak melakukan apa-apa saat ia menghampiri. Kesempatan adalah mahkluk yang sangat unik. Ia seringkali datang dengan wajah yang tidak menarik saat kita tidak menginginkannya, yang membuat kita sering kali menghiraukannya.

Merajuk pada syair di atas, saat muda kita punya sangat banyak kesempatan untuk berkarya, belajar dan menghasilkan sesuatu. Namun seringkali kita mengabaikan dan tidak menyadari bahwa saat tua nanti, kesempatan seperti itu tidak akan datang kembali. Sama halnya saat kita mempunyai segudang kesempatan yang dapat dikerjakan saat kita sehat, dan seterusnya.

Lalu apa itu artinya tidak ada yang namanya kesempatan kedua? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut saya teringat suatu cerita mengenai kesempatan yang cukup menarik dan sarat akan makna kehidupan. Kurang lebih ceritanya seperti dibawah:

Konon di sebuah desa hiduplah seorang kakek yang taat pada agamanya. Dia begitu tinggi keimanannya. Penduduk sekampung hampir menganggapnya seperti nabi karena ketekunan ibadah juga ahlak yang baik. Kakek itu bisa dibilang sangat dekat dengan Sang Khalik (Pencipta).

Desa yang dihuni sang Kakek tersebut sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu. Masyarakatnya pun hitup tenang dan damai, tidak peduli dengan hiruk pikuk kota-kota modern yang ada di luar sana.

Tidak pernah ada satu prahara pun yang meresahkan masyarakat. Hingga saatnya tiba, Sang Tuhan ingin menguji kesabaran dan ketaatan penduduk desa.

Pada suatu pagi, bencana itu tiba. Banjir bandang datang melanda tanpa permisi. Untungnya masih ada areal pepohonan yang luas sehingga aliran air masih bisa ditahn. Namun demikian perlahan tapi pasti, ketinggian air semakin bertambah.

Ketika ketinggian sudah mencapai betis, seluruh penduduk berlarian untuk mengungsi. Semua panik karena tahu sebentar lagi ada banjir susulan dan areal pepohonan itu tidak akan sanggup bertahan lebih lama.

Namun, tidak dengan kakek yang bijaksana itu. Dia tetap berdiri di dalam rumahnya sembari mengangkat kedua tangannya dan berdoa.

Seorang tetangganya datang dan mengajaknya untuk mengungsi bersama. Namun, kakek itu menolaknya. Ia mengatakan dengan penuh keyakinan bahwa Tuhannya yang ia sembah selama ini pasti akan menolongnya.

Air pun semakin tinggi. Kini kakek tersebut telah berdiri di atas sebuah kursi sembari mengangkat kedua tangannya dan berdoa. Seorang wanita paruh baya datang menghampirinya.

Wanita itu menawarkan bantuannya untuk menolong kakek tersebut keluar dari rumahnya dan menuju tempat pengungsian. Namun, sama seperti sebelumnya kakek itu bersikeras untuk bertahan sembari mengatakan bahwa Tuhannya pasti datang dan akan menyelamatkannya.

Air mengalir semakin deras dan ketinggian pun bertambah. Kini sang kakek sudah ada di atap rumahnya. Yang dilakukannya masih sama. yakni berdoa.

Tiba-tiba dari arah selatan seorang pemuda dengan menggunakan perahu karet datang menghampiri. Pemuda itu menawarkan bantuannya untuk membawa kakek tersebut ke tempat pengungsian. Namun, sekali lagi dengan keras kepalanya kakek itu menolak. Ia mengatakan bahwa Tuhannya pasti datang dan menolongnya. Pemuda itu pun pergi.

Air semakin tinggi. Ketinggian air kini sudah mencapai mata kaki kakek yang sedang berdiri di atap rumahnya. Si kakek mulai resah namun mencoba untuk tetap yakin pertolongan dari Tuhan akan datang. Sesaat kemudian datanglah tim SAR dengan helikopter menghampiri. Ketua tim menawarkan untuk menolong kakek tersebut. Namun, kakek tersebut dengan suara keras dan membentak menolak untuk pergi. Ia mengatakan dengan tegas kepada petugas SAR bahwa Tuhannya pasti datang dan menolongnya.

Kisah ini ditutup dengan tragis seiring datangnya berita bahwa kakek tersebut meninggal karena tenggelam… (T_T)

Di alam akhirat. Kakek itu pun protes dan bertanya pada Tuhannya. ”Ya Tuhan…! Seumur hidupku aku habiskan untuk menyembah Engkau. Aku juga telah menyiarkan ajaran agamamu dengan tulus dan ikhlas tanpa meminta imbalan. Namun, mengapa ketika musibah banjir itu datang dan aku berdoa, Engkau tidak datang dan menolongku. Apa salahku…?”

Tuhan pun menjawab, ”Wahai kakek yang sombong. Apakah matamu tidak melihat pertolonganku? Aku sudah mengirimkan pertolonganku padamu.

Tidak tanggung-tanggung sampai 3x. Yang pertama adalah seorang wanita paruh baya yang datang kepadamu. Yang kedua adalah seorang pemuda yang datang dengan perahu karetnya. Dan yang ketiga adalah tim SAR yang datang dengan helikopter. Karena dirimu telah berburuk sangka padaKu, maka masuklah engkau ke dalam nerakaKu.”

Sama seperti petikan syair diatas, cerita pendek ini juga memiliki pesan moral yang serupa. Dari cerita pendek ini kita dapat memetik pelajaran bahwa Tuhan tidak pernah menolong dengan tangannya sendiri, namun dengan berbagai bentuk. Jika dikaitkan dengan pertanyaan diatas, bisa jadi kesempatan tidak akan datang dua kali. Pertanyaan tersebut sebenarnya cukup sulit untuk dijawab. Mengingat saat satu kesempatan hilang, kesempatan lain pasti akan datang, tentunya dengan wujud yang berbeda, yang kerapkali tidak kita sadari.

Orang yang sukses ialah orang yang mampu melihat peluang, dan memanfaatkan kesempatan tersebut dengan sebaik-baiknya. Kalaupun kesempatan itu hilang, tidak ada salahnya untuk terus berjalan kedepan dan yakin serta menyadari kesempatan lain pasti akan datang.

“Ketika satu pintu tertutup, pintu lain terbuka; namun terkadang kita melihat dan menyesali pintu tertutup tersebut terlalu lama hingga kita tidak melihat pintu lain yang telah terbuka.” – Alexander Graham Bell 

2 comments:

  1. exactly, so you believe with 2nd chance or not?
    that's the point from my content ^^,
    I believe it but someone in my past don't believe it.

    i think... you already believe it....

    ReplyDelete
  2. Sepertinya anda salah menanggapi maksud tulisan diatas. Salah saya juga membuat judul yang kurang mewakili isi keseluruhan. Saya akan simpulkan maksud tulisan di atas dengan bahasa yang lebih sederhana. Menurut saya kesempatan kedua itu tidak ada, jikapun ia datang, ia akan menghampiri dalam bentuk yang berbeda.

    Ada yang bilang hidup ini hanya sekali, maka harus dijalani dengan sebaik-baiknya. Ada juga ungkapan yang mengatakan bahwa waktu tidak akan bisa terulang kembali, maka setiap detik dalam hidup harus dimanfaatkan dengan bijak. Semua itu ada benarnya. Dari beberapa pernyataan itu saya bisa simpulkan menurut sudut pandang saya, bila kesempatan itu hanya akan datang sekali. Coba bayangkan jika kesempatan kedua bahkan ketiga dan seterusnya itu ada. Alhasil kita tidak perlu khawatir saat berbuat salah, salah mengambil keputusan atau kita bisa berbuat apa saja, karena besok peristiwa serupa akan kembali terulang. Dan tentu saja tidak akan ada yang namanya kegagalan dan penyesalan di dunia ini, semua orang akan meraih keberhasilan.

    Reformasi 98, saat Suharto berusaha dilengserkan mahasiswa dan rakyat indonesia. Kalo saja kesempatan kedua itu ada, ia akan berkata "Mohon maaf kepada rakyat indonesia, atas semua kesalahan yang telah saya perbuat selama 32 tahun berkuasa. Saya akan berusaha kembali mengemban mandat untuk memangku kursi kepresidenan dengan semestinya pada kesempatan kedua ini". Jika hal tersebut sampai terlontar dari mulut seorang suharto, kekerasan akan semakin memanas, dan negara akan semakin terpuruk. Sepertinya hal itu tidaklah mungkin akan terwujud. Sudah terlambat, saat negara telah dililit hutang yang bahkan telah diwariskan kepada saya pribadi sebagai warga negara. Jadi kesempatan kedua bagi suharto saat itu bukan menjabat kembali sebagai presiden, melainkan melakukan perombakan atas kekuasaan otoritas.

    Atau seandainya saya seorang pengusaha, yang tiba-tiba mendapat peluang benar-benar menggiurkan dari seorang rekan bisnis. Kesempatan yang sangat baik. Tapi jika saat ini saya melewatkan peluang yang akan memajukan perusahaan saya, apakah anda bisa menjamin peluang seperti itu akan datang lagi? Sepertinya kemungkinan datangnya peluang yang sama adalah satu berbanding sekian. Maksudnya mungkin saja datang tapi sangat kecil kemungkinannya. Tapi tidak berarti kesempatan itu telah benar-benar hilang. Kesempatan kedua akan datang, namun dalam bentuk yang tidak sama. Misalnya ada tawaran berbeda dari rekan bisnis yang berbeda pula tentunya. Itu yang saya sebut sebagai kesempatan kedua. Benar saja, jika diperhatikan kesempatan yang pertama dengan kesempatan baru atau kesempatan kedua sangat berbeda wujudnya.

    Tanpa bermaksud menghakimi, mengacu pada maksud tulisan anda, menurut saya memang benar kesempatan kedua itu tidak ada. Tanpa bermaksud menyinggung personal anda, mungkin ada benarnya bila anda telah menyia-nyiakan kesempatan masa lalu anda, yang tidak akan datang untuk kedua kalinya. Namun kini telah datang kesempatan baru yang wujudnya benar-benar berbeda. Bahkan kesempatan baru itu mungkin lebih baik dari sebelumnya. Entahlah.. saya tidak berwenang menilai kehidupan pribadi seseorang.

    Btw thanks uda mau berkunjung ke blog saya dan bersedia menanggapi tulisan saya yang bersifat cukup umum ini. Tp setidaknya blog anda juga mendapatkan backlink dari blog ini.

    ReplyDelete