Monday, January 31

Belajar Jujur Dari Kantin Jujur

Kantin Jujur..?? Tulisan ini diilhami oleh kantin (tapi bukan kantin) yang berada di kantor saya. Pie toh iki??? Hahaaa.. Jadi begini,, Sebenarnya Kantin jujur ini hanya sebutan aja sih. Di sini konteksnya, salah seorang temen kantor saya bawa dagangan yang ditaro gitu aja di atas meja. Buat yang mau belanja tinggal taro aja duitnya sesuai harganya. Jadi yang jualan gak perlu nunggu seharian di depan dagangannya. Ya tentu saja,  karena buka kantin buat nyambi aja, dia kan mesti kerja di kantor. Hasilnya lumayan kok, karena sudah terjalin kepercayaan sesama rekan kerja. Jadi bisa dibilang, dalam kasus ini kantin ini cukup berhasil.

Setelah saya sempat berkencan dengan tante gugel, sebenarnya sejumlah sekolah juga uda nerapin model kaya gni. Tujuannya tentu saja menumbuhkan kejujuran sejak dini. Namun sayang hasilnya nol. Alasannya kantin tersebut bangkrut karena ternyata banyak siswa/ siswi yang tidak membayar sehabis makan.

Coba kita bandingin dengan yang ada di jepang. Beda penyebutan dengan konsep yang sama..

Sebenarnya sih ini bukan kantin ato pasar yah karena penjual disana adalah para petani yang membuka lapak sendiri-sendiri untuk menjual hasil kebunnya yang tersisa (kebanyakan). Dan kalau dilihat, tidak ada bedanya dengan pasar yang ada di Indonesia, kecuali satu perbedaannya yaitu tidak ada orang yang menjaga untuk lapaknya tersebut.

Lapak
Jadi bagaimana transaksinya? mudah kok, mereka (si penjual) telah mencantumkan harga di setiap barang dagangannya dan apabila ada pembeli yang datang untuk membelinya, si pembeli cukup masukkan uang seharga barang yang dibeli ke tempat yang telah disediakan.

Dan percaya atau tidak, boleh dibilang hampir tidak ada satupun petani yang rugi karena berdagang dengan cara sepeti ini. Atau dengan kata lain, semua pembeli selalu membayar apa yang mereka ambil.

Lapak

Lapak

Saya gak sependapat kalo ada yang bilang miskin ato kurang mampu, menjadi ukuran atas kejujuran seseorang. Tidak mempunyai uang tidak berarti dapat dijadikan alasan untuk berbuat tidak jujur.

Dalam hal ini, kita tidak harus selalu mencontoh teknologi yang berasal dari Jepang saja tetapi tidak ada salahnya kita juga mencontoh moral dan rasa malu yang mereka miliki.

Berhenti melihat disekitar, dan berkomitmen untuk tanamkan sikap seperti ini mulai diri kita sendiri. Berhenti mengkritik orang lain! Saya yakin akan tiba saatnya nanti Indonesia akan mampu berada diatas jepang. Jangan bilang gak mungkin. Stigma inilah yang membuat kita gak pernah maju. Kalo belum apa-apa uda bilang gak mampu, uda nyerah, trus gak mau gerak karna berpikir gak akan mungkin berhasil, tentu gak akan ada hasil. Kita pasti bisa.

0 comments:

Post a Comment